Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, 17 December 2015

Pacarku Tentara

Sore yang tenang, angin berhembus dengan santainya, air di kamar mandi saling berebutan jatuh dari keran untuk segera mengisi bak kamar mandi.

Tiba2 ada nomor tak dikenal yang masuk hapeku, siapa orang ini? Tapi ttap saja q angkat karena q menunggu telepon dari seseorang.

"Halo, ini dengan ahma?" Suara disana mulai bertanya. "Iya benar maaf ini dengan siapa ya?" Balasku mendengar pertanyaannya. "Ini dengan erik?" "Hah, erik?" Seingatku q ga pernah punya tman yang namanya erik? Ada jga yang namanya eriko, tapi dia khan cacat dan ngomongnya pun susah kog ini lancar? Batinku mulai brtanya2

"Mamahmu yang kasih no mu ke aku pas aku latihan di desamu."  "Oh gtu thoo." Reaksi ahma benar2 diluar perkiraan.

sejak bertemu saat itu, erik dan ahma hnya saling bertukar sapa lewat telepon. Mereka tak pernah bertemu lagi hingga akhirnya suatu malam minggu, erik memberanikan diri untuk mengajak ahma keluar. Ahma pun mberanikan diri untuk keluar bersama erik, padahal sebelumnya dia tak pernah keluar bersama dengan orng2 yang tak dikenalnya dengan akrab.

Hawa dingin mulai merebak di pantai itu, jaket sudah ahma eratkan dengan sangat kencang unk melindungi tubuh mungilnya. Tdi dia menentukan tempat untuk janjian dekat pantai karena dia suka dengan bunyi ombak, lagipula kota lkecilnya tak punya tempat nongkrong yang sesuai dengan kantong ahma.

Erik tak kunjung dtg, apakah dia kecewa setelah pertemuan pertama itu, pikir ahma sambil memakai sarung tangan unk melindungi kedua tangannya yang sudah kedinginan. Ahma ingin menghubungi erik, tapi niat itu dihentikan karena nanti dia akan dianggap murahan oleh erik.

Akhirnya ahma pun tak ambl pusing dengan kehadiran erik. Dia mulai menikmatin pemandangan malam hari di sudut kotanya. Ombak berkejaran ingin sampai Pda pantai, suaranya pecah membahana. Angin mulai menggoyangkan jilbab biru yang melekat pada kepalanya.

Ahma mulai memejamkan matanya hingga tiba2 ponsel tulalitnya berdering memunculkan no yang sudah dikenalnya itu.

"Ahma, kamu sebelah mana? Q dah nyampe nich?" suara erik terdengar jelas di telinga ahma.

Segera saja ahma mulai mncari erik, nah ketemu dia tampil kasual dengan celana jeans dan jaket hitam miliknya. "Arah jam 12 rik, ahma berkata sambil melambai2kan tangannya.

Sekarang ahma dan erik sudah duduk berdua di pinggir pantai. Mereka sama2 terdiam, ga tahu mau mulai dari mana?
"Kamu" ahma dan erik sama2 mau bertanya. "Kamu dulu" mereka kembali bareng lagi. Tawa pun pecah diantara keduanya. Hingga akhirnya erik pun mempersilahkan ahma unk bertnya dahulu.

"Kamu orgnya tertutup ya, pendiam, ga gampang dekat dengan org serta cuek juga ya? Ahma mulai menginterogasi si erik. "Soalnya bahasa smsmu it trlalu singkat, hanya menjawab apa yang ditanyakan, dan ga asik padahal org lampung eh org perantauan itu ga boleh terlalu pemalu begitu entar malah ga dpat tman yang banyak. Terus kenapa harus mbalas sms dngan sngat singkat, udh ga mau smsan atau lagi sibuk banget" haahhahahaa ahma tertawa dengan pertanyaannya yang trkanal dengan pertnyaan 1 rt itu. Tiba2 hatsyiii hidung ahma yang rentan udara dingin itu pun mulai menunjukkan ketidaksukaannya pada udara dingin.

"Ah ga juga kog, q ga sedingin itu juga". Maav boleh pinjam tangan kirimu?
Ahma masih belum menyadari ketika tiba2 erik mengaitkan tngan kananya ke tngan kiri ahma dan membawanya ke saku jaketnya. Biar kamu hangat. Ahma ingin melepaskan tangannya tpi gengaman erik terlalu kuat.

"Hei erik, lepasin donk. Jantungku berdegup kencang bgt ini. Ahma mulai protes pada erik. Hehehe udah tenang aja, q jga sama, jawab erik dengan sama gugupnya. "Lah trus klo kmu jga deg2an knpa msh digengam aja ini tangan". Bukannya q ga mau Lepasin, tangannya udah terlanjur lengket. Tawa pun pecah diantara mereka. Obrolan pun berjalan dengan lancar. Ahma dan erik mulai saling terbuka satu sama lainnya.
Kedekatan mereka perlahan muncul baik ahma maupun erik sudah saling membuka diri masing-masing. 

Malam itu pun mereka pulang dengan perasaan masing-masing. Ahma bahagia krna sudah bertemu dengan orang yang disukainya. Sedangkan erik karena dia menang taruhan. Ya dia menang besar karena sudah mendapatkan ahma.

Kejadian itu bermula saat dia dan rekan2nya sedang melakukan bakti sosial di desa ahma. Hanya ahma yang terlihat cuek dengan kedatangan mereka. Hingga akhirnya mereka merencanakan taruhan ini. Jika erik dapat kencan dengan ahma maka erik menang 8 juta jika tdak maka dia yang harus membayar 4 rekan lainnya sebesar 2 jt tiap orang. Dan sekarang dia berhak unk mendapatkan itu,

"bro, dia udah bertekuk lutut tuh sama q. Sekarang mana uangnya". Erik memasuki kamar
"Eh enak aja, khan baru sekali jalan rik, mana kmu tw kalo si ahma udah suka bgt ma kmu" candra mulai protes.
"Iya bener bgt rik, waktunya tuh seminggu" dendi ikutan menyela.
"Eh, kmrn khan perjanjiannya cma ngajak ahma jlan. Knapa jadi seminggu gini." protes erik
"Emang knapa rik? Klo kmu sama ahma jlan seminggu? Kamu takut beneran naksir dia? " Topan menyela
"Hahaaha q, suka sama ahma ga akan." erik menyela dengan sangat yakinnya.
"Haha yakin amat kamu rik, ga bakal terpikat sama dia. Dia memang ga cantik tapi dia manis lhoo. Kalo kamu ga mau kasih kan ke q aja " yogi berkata seolah-olah ahma adlh barang.
"Hei yog, ahma bukan barang yaaa ngapain juga q harus kasih ke kmu". Erik terdengar marah saat itu.
"Eh santai rik, perjanjian kita blm kelar, sampe kmu bisa mbuat ahma benar-benar suka ma kamu" candra berusaha meredakan amarah erik.
"Okey, aku yakin ahma itu udah suka banget ma aku". Erik menjawab mantap seolah ada ahma disampingnya yang mengandung lengannya.
"Eh ngapain q jadi kepikiran dia yaa" hati erik bertanya-tanya.

Sejak pertemuan terakhir kali di pantai itu, hubungan erik dan ahma lebih akrab dan dekat. Setiap sore setelah pulang dinas, dia ditemani candra menjemput ahma di tempat kerjanya dan mengantar hingga rumah.

Papah mamah ahma sudah tahu dengan hubungan mereka berdua. Lagian tiap malam minggu erik juga pasti datang untuk ketemu ahma. Ahma tidak mau diajak keluar apalagi papah tak memperbolehkan mereka jalan berdua.
Namun tiap hub jika tidak ada pertengkaran pasti tidak akan rame. Sama juga trjdi pada ahma dan erik 

Tuesday, 2 June 2015

Suratku Untukmu

Hai apa kabar? Lama kita tak bersua melalui FB ataupun sms. Selama ini hanyalah itu yang dapat menghubungkan kita berdua. Aku tak pernah mencoba untuk menelponmu karena suaraku pasti bergetar jika berhubungan langsung denganmu, dan aku pasti akan binggung dengan apa yang akan kita bicarakan berdua.

Aku ingat terakhir kali kita saling berhubungan itu ketika ulang tahunku yang ke-22. Kau mengucapkan ucapan selamat yang selalu berbeda dengan yang lainnya. Tak pernah sedikitpun kau sama dengan yang lainnya. Aku ingat tahun lalu pun kau mengucapkannya setelah lewat beberapa hari dari hari bahagiaku itu. Tapi tak masalah selama kau masih mengingatnya walaupun terlambat beberapa hari.

Apa kabarmu disana? Rasa kangen jika tak bertemu denganmu walau hanya lewat media sosial.

Apakah kamu juga kangen denganku? Itu selalu menjadi pertanyaanku selama ini. Kangenkah kamu padaku?

Aku harap kamu bahagia disana, di tempat barumu. Jarak dan waktu kita tak memungkinkan kita untuk dapat bersama lagi. Aku ingat kamu pernah berkata bahwa cintaku sudah mengakar padamu sehingga takkan bisa berpindah ke lain hati. Benar cintaku kepadamu sudah menjadi sebuah pohon rindang yang dapat membuat orang nyaman jika berada di bawahnya.

Akan tetapi aku tak dapat melakukan apa-apa terhadap apa yang telah terjadi di antara kita. Aku selalu berdoa semoga kau bahagia selalu disana agar akupun bisa tersenyum manis untukmu. Aku tak ingin ada airmata saat mengingatmu, akan tetapi hanya senyuman manis yang ada saat dirimu hadir dalam ingatanku.

Aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah selalu ada dalam kehidupanku selama beberapa tahun terakhir. Kamu membuat aku tertawa, tersenyum, marah bahkan menangis hanya karena bahasamu saja karena kita tak pernah bertatap muka.

Kini semua itu hanyalah tinggal kenangan karena kamu dan aku tak mungkin bersama. Bukan karena aku tak mau akan tetapi kamu telah pergi dan aku tak tahu dimana sekarang dirimu. Kamu sudah hilang dari hadapanku walau kamu masih sering mampir dalam hatiku. Masih bisakah kamu kembali di hadapanku lagi? Jika tidak maka lebih baik aku potong saja pohon ini, agar dia tak roboh dan melukai orang.

Entah kamu apa aku yang menghilang? Aku membaca kembali surat itu dan langsung tersadar atas apa yang sudah ku lakukan denganmu. Surat yang takkan pernah sampai kepada dirimu. Surat yang berisi semua keluh kesahku dan uneg-unegku. Surat yang berisi semua kerinduanku padamu. Sudah hampir 2 tahun kita tak lagi bersua, apa yang sebenarnya terjadi padamu sehingga kamu tak mau menemui aku. Apakah mungkin karena aku yang menghindarimu?

Aku bukannya menghindarimu akan tetapi aku menghindari apa yang telah kita lakukan. Sms-smsmu yang mesra itu membuat aku kangen padamu, akan tetapi saat ini kata-kata itu bukanlah milikku lagi. Aku tak berhak atas kata-kata itu darimu walaupun aku ingin setiap hari kamu mengucapkan itu untukku. Mungkin bagimu kata hanyalah kata tanpa makna. Sedangkan bagiku, kata-kata darimu itu beribu makna. Apakah aku masih terlalu berharap padamu? Aku juga tak tahu, mungkin hatiku lebih bahagia jika melihat kau dapat bersanding dengan seseorang yang membahagiakan hatimu.

Harapanku mulai ku kendalikan agar aku pun tak kecewa karenanya. Kata bang tere liye jika kita tak mau kecewa maka janganlah terlalu berharap. Ternyata maksud ucapanmu tentang “biarkan waktu yang mengungkapkan segalanya”. Ini kah? agar aku dan kamu tak pernah kecewa atas apapun yang akan terjadi di antara kita berdua.
Tegal, 28 Desember 2013

Lolos di Cerpen.com tanggal 8 Oktober 2014

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes